Setiap kali kulihat ibu mengusapnya dengan tomat,
entah untuk apa sebenarnya dan bagaimana bisa ibu selalu melakukannya
disaat-saat ia tengah tidur, ada apa?. Ibu tak pernah tahu betapa sering aku
diam-diam melihatnya mengusap-usap sesuatu yang hitam itu, setiap malam dan
dini hari ketika ibu tidur.
Tangan kananku menutupi sebagian kening dan mataku
yang sebenarnya tidak tertutup penuh. Dibalik sela yang sempit itulah aku
melihatnya menggerak-gerakan tangan kirinya ke tubuhnya, seperti memutar namun
tidak Nampak jelas karena ibu membelakangiku sambil berdiri.
Bermenit-menit aku terus memperhatikannya, sambil
terkadang pikiranku melayang entah kemana saja, seperti tentang teman-teman
sekolah, Risa yang tadi siang menjailiku dengan debu kapur putih yang ia
oleskan ke wajahku, si Fikri yang sempat membuatku kesal dengan menaruh cermin
di dekatku yang sedang berdiri di sampingnya, lalu si Putri yang meledekku
dengan sebaris tulisan Siska cinta Andi di papan tulis hitam di kelasku yang
amat membuatku malu. Kalau sudah begitu, aku tidak pernah marah, hanya saja aku
langsung membalasnya lagi sampai hatiku puas. Namun, kadang aku juga dimarahi
karena ketahuan ibu wali kelasku, lalu ibu guru akan menghukum kami semua
dengan berdiri di luar kelas, dengan begitu akan banyak teman-teman lain atau
adik kelas yang menertawai kami sambil berteriak “woy! kakak-kakak kelas lima!”.
Sek! hampir saja ibu melihatku saat aku hendak
menggeser tanganku dari posisi semula, untungnya aku cepat menyadari itu lalu mengubah
posisi tidurku menjadi miring ke kanan membelakangi tubuhnya. Disana aku mulai berpikir lagi, mengapa ibu
menggosokkan tomat pada tanda hitam di perutnya? Bukankah itu bekas luka dari asap
panas alat pemasak nasi yang ibu ceritakan seminggu yang lalu? Mengapa harus
dengan tomat? Pikiranku terus bertanya-tanya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar