Jumat, 16 Juni 2017

Hitam (Cerpen1)

Hembusannya kian sunyi, membisu di pelataran desa yang penuh dedaunan jatuh, angin bisu. Kini jalan-jalan desa berwarna hitam, merata dengan bebatuan kecil yang berada di dalamnya persis seperti brownies yang kupegang ditanganku, hitam pekat. Lantas apalagi yang tampak hitam di sekelilingku?  Kurasa kutahu hitam manalagi yang kulihat, sesuatu yang ada pada balik sutera di tubuhnya. 

Setiap kali kulihat ibu mengusapnya dengan tomat, entah untuk apa sebenarnya dan bagaimana bisa ibu selalu melakukannya disaat-saat ia tengah tidur, ada apa?. Ibu tak pernah tahu betapa sering aku diam-diam melihatnya mengusap-usap sesuatu yang hitam itu, setiap malam dan dini hari ketika ibu tidur. 

Tangan kananku menutupi sebagian kening dan mataku yang sebenarnya tidak tertutup penuh. Dibalik sela yang sempit itulah aku melihatnya menggerak-gerakan tangan kirinya ke tubuhnya, seperti memutar namun tidak Nampak jelas karena ibu membelakangiku sambil berdiri.

Bermenit-menit aku terus memperhatikannya, sambil terkadang pikiranku melayang entah kemana saja, seperti tentang teman-teman sekolah, Risa yang tadi siang menjailiku dengan debu kapur putih yang ia oleskan ke wajahku, si Fikri yang sempat membuatku kesal dengan menaruh cermin di dekatku yang sedang berdiri di sampingnya, lalu si Putri yang meledekku dengan sebaris tulisan Siska cinta Andi di papan tulis hitam di kelasku yang amat membuatku malu. Kalau sudah begitu, aku tidak pernah marah, hanya saja aku langsung membalasnya lagi sampai hatiku puas. Namun, kadang aku juga dimarahi karena ketahuan ibu wali kelasku, lalu ibu guru akan menghukum kami semua dengan berdiri di luar kelas, dengan begitu akan banyak teman-teman lain atau adik kelas yang menertawai kami sambil berteriak “woy! kakak-kakak kelas lima!”.

Sek! hampir saja ibu melihatku saat aku hendak menggeser tanganku dari posisi semula, untungnya aku cepat menyadari itu lalu mengubah posisi tidurku menjadi miring ke kanan membelakangi tubuhnya.  Disana aku mulai berpikir lagi, mengapa ibu menggosokkan tomat pada tanda hitam di perutnya? Bukankah itu bekas luka dari asap panas alat pemasak nasi yang ibu ceritakan seminggu yang lalu? Mengapa harus dengan tomat? Pikiranku terus bertanya-tanya.  




DEFAMILIARIZATION

Sebelumnya jangan bosan ya untuk terus berkunjung :) Shklovsky’s focus in his view of literature is the notion of alienation or also...